Geometry -
Math
Kurva dampak pengangguran di Provinsi Jawa Barat menunjukkan beberapa tren kunci berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2025 tercatat sebesar 6,74 persen dengan jumlah pengangguran sebanyak 1,81 juta orang, meningkat sedikit dari 1,79 juta orang pada Februari 2024. Meski prosentase TPT turun sedikit dari 6,91 persen sebelumnya, jumlah pengangguran mengalami kenaikan, yang sebagian diduga akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang berkontribusi pada peningkatan pengangguran.
Dampak pengangguran di Jabar juga terlihat dari distribusi tenaga kerja, di mana mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh/pegawai (40,58 persen) dan berusaha sendiri (22,53 persen). Selain itu, tingkat pengangguran tertinggi terdapat pada lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencapai sekitar 12,42 persen, yang menunjukkan kelompok ini sangat rentan terhadap pengangguran.
Studi-studi terkait juga memperlihatkan bahwa faktor-faktor makroekonomi seperti belanja daerah, inflasi, dan upah minimum kabupaten/kota mempengaruhi tingkat pengangguran di Jabar. Belanja daerah yang efektif dapat mengurangi pengangguran dengan membuka lapangan kerja baru lewat efek multiplier, sedangkan upah minimum yang tinggi cenderung meningkatkan pengangguran.
Maka, kurva dampak pengangguran Provinsi Jawa Barat dapat dilihat sebagai fluktuasi yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti PHK, serta variabel ekonomi seperti PDRB dan belanja daerah. Peningkatan pengangguran berdampak pada penurunan konsumsi rumah tangga, tekanan sosial, dan potensi penurunan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
Data lengkap dan grafik spesifik dampak pengangguran ini perlu diakses melalui laporan BPS Provinsi Jawa Barat atau studi terkait ekonomi regional untuk visualisasi kurva yang lebih rinci dan analisis longitudinal yang akurat.